Yang Berjalan dan Yang Terbang: Segelas Cokelat Hangat

segelas cokelat hangat

Mara menatap kafe di hadapannya sambil berusaha mengusir keraguan dan kecemasan yang merayapi dirinya. Kafe itu adalah tempat diadakannya reuni SMA yang Mara putuskan untuk hadir. Meski sudah memutuskan begitu, tetap saja berbagai pikiran buruk muncul seakan ingin menahan langkahnya. Pikiran yang paling sering muncul adalah pertanyaan apa yang akan terjadi nanti dan apa Mara akan baik-baik saja.

Mara kemudian menarik napas, dan menghembuskannya perlahan. Itu adalah cara yang diajarkan Ken padanya. Ken bilang kalau dirinya juga gugup saat datang ke Cahaya Hati waktu itu, dan pemuda itu memberikan beberapa tips untuk dapat mengurangi rasa gugup Mara. Ken bahkan sempat menawarkan diri untuk menemani Mara, tapi Mara menolaknya.

Mara tahu keberadaan Ken di sampingnya akan sangat membantu, tapi Mara tidak mau dirinya menjadi pusat perhatian di reuni yang tidak pernah dihadiri sebelumnya itu. Masa sekalinya datang, tahu-tahu membawa pemuda yang bukan satu sekolah dengan mereka?

Mara tidak ingin memberikan alasan pada mereka untuk menjadikannya bahan gosip. Yang Mara inginkan saat ini adalah cepat-cepat melewati semuanya dan cepat-cepat semua ini berakhir. Kalau bisa, dengan baik.

Dan Ken pun mengerti. Pemuda itu lalu berpesan pada Mara untuk segera menghubunginya kalau terjadi apa-apa. Lagipula tempat pertemuan Ken dengan teman-teman Cahaya Hati tidak jauh dengan lokasi reuni Mara. Ken mengusulkan mereka pulang bersama, dan kali ini Mara menerima usulan itu dengan senang hati.

Setelah menarik dan menghembuskan napas sekali lagi, Mara pun melangkahkan kakinya memasuki kafe tersebut. Mara memaksakan senyum dan menyapa kikuk teman-teman SMA yang sudah datang lebih dulu di reuni tersebut. Kebanyakan memasang ekspresi kaget karena tak menyangka melihat Mara datang reuni. Beberapa di antaranya merasa pangling saking terlalu lama tidak bertemu dengan Mara. Beberapa lainnya membalas sapaan Mara dan menanyakan bagaimana kabarnya, kemana saja ia selama ini.

Reuni itu tidak berjalan seformal yang Mara kira. Setelah pembukaan oleh host, yang Mara lewatkan karena ia ternyata datang terlambat, acaranya bebas. Karena itu kini mereka sudah mengobrol santai di meja-meja kafe, termasuk Mara yang sudah duduk dengan posisi tak nyaman. Ada beberapa orang yang juga duduk bersama Mara dan menanyakan ini itu padanya, membuat Mara keteteran untuk menjawab.

Mara akhirnya merasa tertolong begitu dilihatnya Bella berjalan ke arahnya dari counter kafe, menyapanya dengan wajah sumringah. Bella sedang memesan minuman saat Mara memasuki kafe tadi, jadi baru melihat Mara sekarang. Bella pun mengajak Mara duduk terpisah dan memesankan minuman untuk Mara, lalu membuka obrolan ringan. Dari situ Mara tahu kalau ternyata Bella bekerja di industri yang sama dengannya, karenanya waktu itu Bella bertemu dengan rekan kerja Mara. Waktu itu Bella dan rekan kerja Mara mengikuti pelatihan yang diadakan pemerintah.

“Gue waktu itu nggak sengaja lihat foto lo bareng Mbak Ineke, pas Mbak Ineke nunjukin foto-toto kantor di HP nya, Ra.” Bella menyebut nama rekan kerja Mara itu. “Gue awalnya kaget banget, tapi senang juga akhirnya tahu gimana kabar lo. Akhirnya gue maksa-maksa Mbak Ineke buat kasih kontak lo. Mbak Ineke sempat nggak mau ngasih, katanya takut lo marah. Emang lo nyeremin di kantor, Ra? Mbak Ineke terus-terusan bilang jangan sampai lo tahu kalau dia yang kasih kontak lo.”

Mara meringis mendengar pertanyaan Bella yang tampak benar-benar penasaran itu. Bella tampaknya masih mengingat diri Mara saat SMA yang mudah berbicara dan diajak bicara oleh siapa saja. Tidak seperti Mara yang sekarang. Mara akhirnya hanya menyahut pendek. “Yah, begitulah.”

“Ngomong-ngomong, kantor kita dekat lho, Ra! Kapan-kapan kita makan siang atau ngopi bareng, ya?” ajak Bella dengan nada riang. Mara pun mengangguk.

Obrolan itu terus berlangsung dengan cukup lancar, meski Mara masih menahan diri untuk tidak berkata banyak. Beberapa kali Mara tidak langsung menyahut, tapi memproses dulu kalimat di kepalanya agar tidak langsung keluar seenaknya. Tapi sejauh ini, reuni yang Mara khawatirkan itu berjalan cukup baik. Setidaknya, Mara belum bertemu dengan…

“Oh iya Ra, lo masih sering kontak sama Sophie?”

Wajah Mara langsung pias. Akhirnya nama itu muncul juga. Sophie adalah teman terdekatnya saat SMA dulu, sekaligus yang tiba-tiba balik memusuhi Mara di tahun terakhir. Teman yang bilang kalau ia sering merasa sakit hati dengan ucapan-ucapan Mara. Yang kemudian menjadikan masa itu adalah titik gelap dalam hidup Mara.

Sementara itu, Bella melihat perubahan raut wajah Mara menjadi bingung. “Kenapa, Ra?”

Suara Bella itu menyadarkan Mara. Mara buru-buru menggeleng. “Gue nggak kontakan sama siapa-siapa habis lulus SMA,” jawab Mara kemudian, atas pertanyaan Bella sebelumnya.

Bella baru mau menyahut lagi ketika ia melihat seseorang datang dari pintu masuk kafe. Bella pun langsung berseru. “Ya ampun, panjang umur banget. Itu Sophie datang.”

Mara pun refleks melihat ke arah yang sama. Bella benar. Dilihatnya Sophie yang dikenalnya itu memasuki kafe dengan langkah ringan, berbeda sekali dengan langkah Mara tadi. Sophie menyapa teman-teman dengan riang, menanyakan kabar mereka sambil tersenyum. Sesekali tawa kecil keluar dari bibirnya.

Tiba-tiba saja, Mara merasa dadanya sesak. Melihat Sophie secara langsung membuat kenangan akan masa-masa itu tercetak begitu jelas di kepala Mara. Membuat Mara kembali teringat detail dari kejadian kala itu.

Mara buru-buru mengambil ponselnya. Bermaksud menghubungi Ken. Meminta bantuan pada Ken. Atau memintanya menjemput Mara, atau pulang bersama. Atau apa pun itu. Yang jelas pergi dari tempat ini. Mara rasa ia tidak akan sanggup menghadapi semua itu sekarang. Mara tidak peduli kalau ia harus menghindar lagi, tapi sesak di dadanya terasa begitu menghimpit. 

“Mara?”

Gerakan tangan Mara terhenti. Suara itu terdengar familiar. Mara pun mengangkat kepalanya, mendapati Sophie sudah berdiri di depannya. Menatap Mara seolah tak percaya, dengan kedua tangan yang menutup mulutnya. Mara dapat melihat mata Sophie terbelalak, seperti gabungan dari kaget dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Mara merasa membeku di tempat. Kini ia tidak tahu harus apa. Ternyata Mara sudah tidak bisa menghindar lagi.

Sementara itu, Bella yang menyaksikan semuanya mulai dapat menangkap kalau ada sesuatu yang terjadi di antara kedua temannya itu. Bella pun bangkit dari tempat duduknya, lalu mempersilakan Sophie duduk. Bella juga mengajak teman-temannya yang duduk di sekitar situ agar pindah ke meja lain. Membiarkan keduanya berbicara dengan lebih tenang.

“Lo… apa kabar, Mara?” Sophie akhirnya bertanya setelah dapat menguasai dirinya.

“Baik,” jawab Mara pendek. Ia duduk berjarak dari Sophie. Setelah melontarkan jawaban itu, Mara merutuk dalam hati mengapa ia diajarkan selalu menjawab ‘baik’ saat ditanya kabar. Keadaan Mara sama sekali tidak baik sekarang.

Tapi anehnya, jawaban Mara itu membuat Sophie tampak sedikit lega. “Baguslah kalau begitu.”

Mara mengerutkan kening tak mengerti, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Sophie masih menatap lekat pada Mara, seperti memiliki banyak hal yang ingin diucapkan. Tapi akhirnya Sophie melontarkan kalimat yang pendek. “Selama ini gue berusaha buat kontak lo.”

Kerutan kening Mara semakin dalam. Untuk apa? Setelah semua yang terjadi?

“Tapi lo kayak menghilang begitu aja,” tambah Sophie dengan nada getir. Sophie lalu menunduk. “Tentu aja. Gara-gara gue.”

Mara masih tidak menyahut. Kini di kepalanya semakin banyak pertanyaan-pertanyaan bermunculan. Apa maksud perkataan Sophie? Apa ada sesuatu yang tidak ia ketahui tentang kejadian itu? Mengapa Sophie terlihat seperti orang yang merasa… bersalah?

“Gue… nggak ngerti,” ujar Mara akhirnya. Mara merasa ia tidak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di kepalanya itu sendiri. Mara menelan ludah sebelum melanjutkan ucapannya. “Bukannya waktu itu lo… marah sama gue?”

Sophie mengangkat kepalanya. Matanya tampak berkaca-kaca. Mara terkejut melihatnya.

“Maaf, Mara,” ucap Sophie sungguh-sungguh. “Gue benar-benar minta maaf, Mara. Maafkan gue. Harusnya gue nggak melakukan itu dulu.”

Mara semakin tidak mengerti.

“Waktu itu gue masih terlalu labil dan kekanakan,” tambah Sophie. Tapi ia buru-buru menggeleng. “Enggak, harusnya itu nggak jadi alasan. Itu bukan alasan buat menyakiti lo.”

Sekarang Mara mulai merasa yakin kalau ada hal yang benar-benar tidak ia ketahui dari kejadian waktu itu. Tapi Mara tidak tahu apa itu. Mara juga masih tidak bisa menangkap kemana arah pembicaraan Sophie ini.

“Dulu gue bilang kalau gue sakit hati karena ucapan lo, kan?” tanya Sophie, yang sangat tidak ingin Mara jawab. Karena itu, Mara diam saja. Sophie melanjutkan ucapannya dengan nada getir. “Itu bohong, Mara.”

Apa?

“Itu bohong,” ulang Sophie, dengan suara yang lebih jelas dari sebelumnya. Sophie menarik napas sebelum kemudian berkata lagi. “Waktu itu sebenarnya gue merasa iri sama lo yang selalu bisa bilang apa yang lo pikirkan. Lo terlihat cerdas saat bilang isi pikiran lo dengan lugas, tahu? Gue juga iri dengan lo yang udah tahu apa yang lo inginkan, sedangkan gue bahkan nggak tahu mau ngapain habis SMA.”

Mara tidak sanggup berkata-kata. Otaknya seperti berhenti di jalan. Tubuhnya membeku di tempat. Apa yang didengarnya dari Sophie sekarang ini adalah hal yang paling mustahil terjadi di dunia, yang tidak pernah sedetik pun terbersit dalam pikiran Mara.

“Gue ingin bisa kayak lo, tapi nggak bisa. Karena itu gue malah melakukan hal jahat dengan menyakiti lo. Harusnya gue nggak melakukan itu,” sesal Sophie. Ia menatap Mara lurus-lurus, matanya masih berkaca. “Maaf, Mara. Gue benar-benar nggak seharusnya melakukan itu.”

Suasana hening untuk beberapa saat. Mara masih belum bisa berkata-kata. Otaknya masih berusaha memproses apa yang dikatakan Sophie dan yang terjadi pada masa SMA dulu. Jadi, semua itu hanya karena ini? Semua rasa sakit yang Mara rasakan selama ini? Semua gelap yang mengukung Mara selama ini?

“Lo…” Mara akhirnya bersuara. “Lo… benar-benar nggak seharusnya melakukan itu.”

Airmata Sophie tumpah saat mendengar Mara mengucapkan itu. Sophie mengangguk dalam-dalam, menunjukkan penyesalannya. “Maaf, Mara.”

“Lo nggak tahu apa efek dari kejadian itu buat gue,” ujar Mara lagi, suaranya mulai bergetar. “Lo… nggak tahu sebesar apa luka yang ada di dalam diri gue karena kejadian itu.”

Setelah itu, Mara tidak berkata apa-apa lagi. Mara hanya dapat mendengar Sophie yang menangis semakin deras sambil berulang kali mengucapkan maaf. Dan Mara juga merasakan air matanya tumpah deras sampai bahunya berguncang.

pena runcing
ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Author: ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *