Bangku Kosong (Cerita Horor)

Bangku Kosong – Disclaimer: Kisah ini adalah fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, atau kejadian hanyalah kebetulan.

Hari ini merupakan satu hari seperti yang lainnya, begitu melelahkan. Namun bagi Dela, hari ini berkali-kali lipat melelahkannya. Dari jam masuk kerja sampai sekarang pukul 8 malam, Dela hampir tidak beristirahat. Selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera, hari ini juga. Dela bahkan melewatkan makan siang saking sibuknya, dan baru sadar kalau perutnya kosong.

Tapi tubuh Dela begitu lelah sampai malas untuk mencari makan. Nanti saja di rumah, begitu pikir Dela. Dela pun bergegas merapikan barang-barangnya untuk bersiap pulang, mengingat tinggal ia sendiri di kantor. Membayangkan perjalanan panjang menggunakan kereta listrik alias KRL membuat Dela otomatis menghela napas. Rasanya ingin langsung sampai rumah saja.

Continue reading “Bangku Kosong (Cerita Horor)”

Almost

Almost – Short Story. “Dian, itu barang-barang di atas lemari kamu beresin!”

Dian yang baru saja merebahkan tubuhnya di sofa, terlonjak kaget mendengar teriakan ibunya itu. Sambil ngedumel dalam hati mengenai betapa ibunya tidak bisa membiarkan dirinya beristirahat barang sebentar, Dian melangkah menuju kamarnya.

“Itu kamu naruh apa aja sih di atas lemari? Kan Ibu udah bilang jangan suka numpuk barang, kalo nggak kepakai ya buang. Itu kayaknya udah lama banget ada disitu,” cerocos Ibu panjang lebar begitu Dian sudah muncul di ambang pintu.

“Lupa, Bu,” sahut Dian seraya menarik kursi dari depan meja rias. Diiringi dengan suara omelan Ibu mengenai keteledoran dan kemalasan dirinya yang susah hilang, Dian menaiki kursi dan mengambil kardus yang cukup besar dari atas lemari.

Bruk.

Continue reading “Almost”

Confession

Confession – “Lo mau nembak Rio, Cit?!” seru Tara kaget, hampir tersedak bakso. Bella buru-buru memberikan segelas air putih pada Tara.

“Bukan nembak, Tara. Tapi menyatakan perasaan,” ujar Bella. Sementara Citra cuma nyengir-nyengir sambil mengusap-usap punggung Tara pelan.

Tara yang sudah meminum habis air putihnya, langsung mendelik pada Bella. “Lo lulus matkul Bahasa Indonesia nggak, sih? Itu sama aja artinya!”

Bella melongo mendengarnya. “Emang diajarin di Bahasa Indonesia, soal nembak dan menyatakan perasaan?”

Continue reading “Confession”

Sabtu Pagi

Sabtu Pagi – KRIIIIING.

Dhea menggeliat perlahan mendengar alarm yang menjerit keras. Dhea meraba-raba meja di samping tempat tidurnya dan mematikan alarm yang sudah menjerit dari setengah jam yang lalu. Dengan mata yang masih terpejam, ia lalu meraba-raba lagi untuk meraih ponselnya.

Dhea membuka matanya, agak menyipit karena terkena cahaya ponselnya. “Jam 8?” gumamnya pelan. “Ah, ini kan Sabtu,” sambungnya, mengurungkan niat untuk bangkit dari tempat tidurnya.

Dhea mengusap matanya malas-malasan. Lalu kembali mengamati ponselnya, sambil menghitung mundur.

“Tiga. Dua. Satu.”

Continue reading “Sabtu Pagi”

Firasat

Firasat – Kata orang, hati nurani tahu segalanya. Ia dapat merasakan apa yang dilakukan oleh kita benar atau salah. Ia juga bisa menunjukkan kita jalan keluar saat kita merasa tersesat. Tersesat dalam suatu keadaan yang gelap dan mencekam. Katanya juga, hati nurani dapat membisikkan pada kita bila akan terjadi sesuatu yang buruk. Semacam firasat.

Hei, hebat sekali hati nurani itu. Apakah ia Tuhan? Atau kiriman spesial dari Tuhan? Malaikat, begitukah aku dapat menyebutnya?

Continue reading “Firasat”

Kondangan

Kondangan – Alunan musik khas Sunda terdengar merdu. Aku sebenarnya tidak terlalu menyukai lagu atau musik daerah. Meskipun aku memiliki darah sunda, aku tidak sepenuhnya mengerti Bahasa Sunda karena terlalu lama tinggal di Jakarta. Bahkan terkadang musiknya malah membuatku ingin tidur.

Tapi mendengarnya saat peristiwa sakral seperti ini terasa khidmat, dan menenangkan.

“Nanti pas nikah begini juga bagus, nih,” ujar Lisa yang berdiri di sampingku. Ia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Dengan rambut yang sedikit tidak rapi itu pun Lisa masih terlihat cantik.

Continue reading “Kondangan”