Yang Berjalan dan Yang Terbang Epilog: Icarus Walks

EPILOG: ICARUS WALKS – “Kenapa sih kita ke Jogja akhir pekan gini?”

Bagas mengeluh untuk yang kesekian kali. Keluhannya itu diabaikan oleh Ken, Mara, dan Kania. Hanya Rendy yang sabar dan kembali menyahuti keluhan Bagas itu. “Kan pada bisanya akhir pekan, Gas. Ini juga setelah susah payah buat pada dapat cuti.”

Continue reading “Yang Berjalan dan Yang Terbang Epilog: Icarus Walks”

Yang Berjalan dan Yang Terbang: Ken dan Mara

Bagian 5 | KEN DAN MARA – Sejauh ini untuk Mara, semua bisa dibilang berjalan dengan cukup baik.

Beberapa hari setelah reuni itu, Mara bertemu kembali dengan Sophie. Kali ini hanya berdua saja. Mereka masih agak canggung dan lebih banyak diam, namun berhasil menanyakan keadaan masing-masing tanpa menangis lagi. Seusai pertemuan itu, mereka bertukar kontak dan saling mengirim pesan satu dua kali. Mara juga kembali menyambung kontak dengan teman-teman SMA yang lain, termasuk Bella yang mengundangnya ke reuni.

Urusan Icarus juga berjalan dengan cukup baik. Para anggota Icarus sudah menentukan ide untuk project mereka yang selanjutnya. Pekan kemarin mereka sudah melakukan survey lokasi yang akan dijadikan tempat shooting dan memilah talent yang akan di-casting. Pekan ini mereka akan berkumpul di markas Icarus untuk membahas rencana detail mengenai jadwal produksi film ini secara keseluruhan.

Continue reading “Yang Berjalan dan Yang Terbang: Ken dan Mara”

Yang Berjalan dan Yang Terbang: Segelas Cokelat Hangat

Bagian 4 | SEGELAS COKELAT HANGAT – Sudah hampir setahun Mara bergabung dalam Icarus. Mereka masih membuat film-film yang mereka inginkan.

Terakhir mereka mengikutsertakan film dokumenter terbaru Icarus pada sebuah kompetisi film indie. Pengumumannya masih  belum keluar, tapi Rendy berulang kali menegaskan – dan mengingatkan – kalau mereka membuat film itu bukan semata agar menang lomba. Hal yang diamini juga oleh semua anggota Icarus.

Selain dari project-project Icarus yang berjalan lancar, hubungan Mara dengan para anggota Icarus yang lainnya pun semakin baik. Mara kini sudah terbiasa menyampaikan pendapat-pendapat jujurnya di Icarus. Mereka juga sudah semakin nyaman untuk melontar canda satu sama lain, atau bercerita tentang hal-hal lain di luar Icarus.

Tapi tentu saja, di antara para anggota Icarus itu Mara paling sering bertemu dan mengobrol dengan Ken. Pendukung utamanya tentu saja letak kantor mereka yang bersebelahan. Hampir setiap hari Mara bertemu dengan Ken. Kalau tidak di jam makan siang, mereka biasanya bertemu sepulang kerja untuk makan malam bersama.

Continue reading “Yang Berjalan dan Yang Terbang: Segelas Cokelat Hangat”

Yang Berjalan dan Yang Terbang: Icarus

Bagian 3 | ICARUSProject Icarus yang diberi nama project “Si Otong” itu pun berjalan dengan lancar.

Mara menyelesaikan naskahnya tepat waktu, kunjungannya dengan Ken ke Cahaya Hati waktu itu sangat membantu. Proses pencarian talent juga berjalan lebih lancar dari biasanya, mereka meminta bantuan pada anak-anak di Cahaya Hati termasuk untuk casting peran si Otong. Dan untungnya, kali ini tidak ada kendala tak terduga seperti pada project mereka sebelumnya. Film mereka itu pun sudah tinggal editing saja.

Dan Ken sudah kembali seperti biasa. Tidak lagi berwajah keruh atau diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu. Ken sudah kembali antusias, easygoing, dan friendly pada siapa saja. Mara merasa lega melihatnya. Ken memang belum datang ke Cahaya Hati lagi seusai shooting mereka, tapi kali ini benar-benar karena kesibukannya. Bukan karena ingin menghindari lagi.

Continue reading “Yang Berjalan dan Yang Terbang: Icarus”

Yang Berjalan dan Yang Terbang: Mara

Bagian 2 | MARA – Mara merupakan anak tunggal dan kedua orang tuanya bekerja. Dari kecil Mara sering ditinggal-tinggal dan dititipkan pada saudara atau tetangga.

Mara tidak suka sepi dan sendiri, jadi dia senang berada bersama orang-orang. Berada dalam sebuah kelompok. Dan sampai di bangku SMA, Mara sebenarnya masih suka berbicara dengan orang lain apa adanya tanpa menyembunyikan berusaha dirinya yang asli.

Namun pada tahun terakhirnya di SMA, Mara dijauhi oleh teman terdekatnya. Menurut teman terdekat Mara itu, Mara terlalu blak-blakan dalam berbicara dan sering membuat orang tersinggung ucapan lugasnya. Kejadian itu benar-benar membuat Mara terpukul. Mara tidak menyangka kalau teman-teman yang selama ini Mara pikir mengerti dirinya dan Mara benar-benar menyukai saat bersama mereka, ternyata menyimpan perasaan sakit hati saat bersamanya. 

Continue reading “Yang Berjalan dan Yang Terbang: Mara”

Yang Berjalan dan Yang Terbang: Ken

Bagian 1 | KEN – Pertama kali Mara bertemu dengan Ken adalah pada hari yang sangat melelahkan.

Selama beberapa hari pekerjaannya di kantor sangat menumpuk, dan hari itu adalah puncaknya. Hari itu entah mengapa banyak orang yang meminta disiapkan dokumen ini itu pada Mara yang merupakan bagian Administrasi. Mara susah payah menyelesaikan semua pekerjaannya di jam kerja agar tak perlu lembur, karena di hari yang sama itu juga ia harus mengurus sesuatu di Icarus.

Icarus adalah klub film independen di mana Mara bergabung menjadi anggotanya selama tiga bulan ini. Peran resminya adalah penulis naskah, tapi di klub film kecil seperti ini tidak ada keterikatan hanya pada peran-peran tertentu. Artinya, Mara harus siap turut serta melakukan hal-hal di luar peran resminya jika dibutuhkan. Apalagi Icarus hanya memiliki empat anggota, di mana keempatnya memiliki pekerjaan utama penuh waktu di tempat yang berbeda-beda.

Continue reading “Yang Berjalan dan Yang Terbang: Ken”

Bangku Kosong (Cerita Horor)

Bangku Kosong – Disclaimer: Kisah ini adalah fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, atau kejadian hanyalah kebetulan.

Hari ini merupakan satu hari seperti yang lainnya, begitu melelahkan. Namun bagi Dela, hari ini berkali-kali lipat melelahkannya. Dari jam masuk kerja sampai sekarang pukul 8 malam, Dela hampir tidak beristirahat. Selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera, hari ini juga. Dela bahkan melewatkan makan siang saking sibuknya, dan baru sadar kalau perutnya kosong.

Tapi tubuh Dela begitu lelah sampai malas untuk mencari makan. Nanti saja di rumah, begitu pikir Dela. Dela pun bergegas merapikan barang-barangnya untuk bersiap pulang, mengingat tinggal ia sendiri di kantor. Membayangkan perjalanan panjang menggunakan kereta listrik alias KRL membuat Dela otomatis menghela napas. Rasanya ingin langsung sampai rumah saja.

Continue reading “Bangku Kosong (Cerita Horor)”

Almost

Almost – Short Story. “Dian, itu barang-barang di atas lemari kamu beresin!”

Dian yang baru saja merebahkan tubuhnya di sofa, terlonjak kaget mendengar teriakan ibunya itu. Sambil ngedumel dalam hati mengenai betapa ibunya tidak bisa membiarkan dirinya beristirahat barang sebentar, Dian melangkah menuju kamarnya.

“Itu kamu naruh apa aja sih di atas lemari? Kan Ibu udah bilang jangan suka numpuk barang, kalo nggak kepakai ya buang. Itu kayaknya udah lama banget ada disitu,” cerocos Ibu panjang lebar begitu Dian sudah muncul di ambang pintu.

“Lupa, Bu,” sahut Dian seraya menarik kursi dari depan meja rias. Diiringi dengan suara omelan Ibu mengenai keteledoran dan kemalasan dirinya yang susah hilang, Dian menaiki kursi dan mengambil kardus yang cukup besar dari atas lemari.

Bruk.

Continue reading “Almost”

Confession

Confession – “Lo mau nembak Rio, Cit?!” seru Tara kaget, hampir tersedak bakso. Bella buru-buru memberikan segelas air putih pada Tara.

“Bukan nembak, Tara. Tapi menyatakan perasaan,” ujar Bella. Sementara Citra cuma nyengir-nyengir sambil mengusap-usap punggung Tara pelan.

Tara yang sudah meminum habis air putihnya, langsung mendelik pada Bella. “Lo lulus matkul Bahasa Indonesia nggak, sih? Itu sama aja artinya!”

Bella melongo mendengarnya. “Emang diajarin di Bahasa Indonesia, soal nembak dan menyatakan perasaan?”

Continue reading “Confession”

Epilog: Nightmare Ends

Last Mission | Epilog – Aku menatap makam di hadapanku lamat-lamat.

Aku sudah berdiri sejak dua puluh menit yang lalu di depan makam ini. Setelah meletakkan bunga mawar di depannya, aku tidak melakukan apa-apa lagi. Atau mengatakan apa-apa.

Hanya air mataku yang terus-menerus mengalir. Mengingat semua yang terjadi sejak dua belas tahun yang lalu, sampai seminggu yang lalu. Dan beribu “kalau saja” yang terus berputar di kepalaku.

Continue reading “Epilog: Nightmare Ends”