Kata

kata

 Dari dulu aku selalu suka kata. Kata-kata. Rangkaian kata. Kisah. Cerita. Puisi. Sajak.

Dari dulu aku selalu melihat kata adalah sesuatu yang memiliki daya tarik besar, yang magis, yang merupakan seni terindah dan teragung, yang masuk ke dalam hati, yang menghangatkan hati, yang menyalakan api di dalam hati.

Aku pun melihat kata sebagai sesuatu yang spesial, sesuatu yang aku sukai, sesuatu yang menggerakkan hati. Sebagai sesuatu yang sangat penting buatku, tapi mungkin tidak untuk kebanyakan orang.

Sebuah seni. Keindahan. Perasaan dalam hati.

Tapi akhir-akhir ini, aku melihat kata sebagai sesuatu yang berbeda. Yang lebih luas maknanya dan efeknya. Kali ini bukan hanya untukku, tapi untuk kebanyakan orang. Mungkin bahkan untuk semua orang.

Bahwa kata memiliki peranan besar, terlebih di era seperti sekarang ini: the age of hate, the age of show-off, the age of julid.

Kata yang baik akan memberikan efek baik juga bagi yang mendengar dan membaca. Tapi sayangnya, kata yang buruk punya efek yang lebih kuat 3x lipat untuk merusak dan menjatuhkan.

Orang lebih mudah mengkritik pedas, berkomentar jahat, yang lebih sering dibalut atas nama bercanda atau basa-basi. Seolah memberikan kata-kata seperti itu akan menguntungkan, dan memberi kata-kata baik akan merugikan. Enggan memberikan kata baik pada orang lain, tapi ingin dilihat lebih baik dari yang lain. Kita berlomba-lomba dalam pertandingan semu pada cantiknya feed media sosial dan video kekinian. Perlombaan yang semakin membuat gengsi tinggi untuk memberi kata-kata baik pada orang lain.

Atau saat dalam perkumpulan tertentu, dimana banyak orang yang tanpa sadar mengeluarkan kata untuk mengomentari apa saja, demi berjalannya percakapan dan memeriahkan suasana. Tidak tahu di balik meriahnya suasana itu ada hati-hati yang terluka karena mendengar komentar seperti: kapan nikah, kapan punya anak, kapan punya rumah, kapan dapat pekerjaan, dan lain sebagainya.

Mungkin, aku juga dulu begitu. Mungkin aku juga tidak menyadari semua ini sampai mengalaminya sendiri.

Kalau sudah seperti ini, barulah sadar kalau apa yang diajarkan agama memang benar adanya. Anjuran “Berkatalah yang baik atau diam” bukan hanya nasihat yang berlaku di satu jaman, tapi sepanjang jaman. Anjuran yang dulu hanya kuanggap angin lalu, seperti anjuran dan nasihat-nasihat lainnya.

Ternyata itu adalah benar, dan kunci ketenangan. Kalau tidak bisa memberikan kata yang baik, tidak usah berkomentar macam-macam. Kalau tidak bisa mengeluarkan kata yang baik, tidak usah berbasa-basi dan biarkan saja percakapan berhenti atau jadi tidak meriah.

Dari dulu aku selalu melihat kata sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan besar. Tapi dulu aku masih melihatnya dari sudut pandang positif saja. Sekarang aku mulai menyadari bahwa kata seperti dua mata pisau, yang dapat menusuk tajam ke dalam hati saat digunakan dengan buruk.

Kata juga memiliki sisi negatif yang dapat menyakiti hati orang. Saking menyakitkannya, aku pernah berharap agar orang berbicara buruk di belakangku saja dan jangan sampai aku tahu, agar aku tidak terluka. Dan mungkin di dunia ini, bukan cuma aku yang pernah berharap begitu.

Karena itu, karena hal-hal yang aku tulis ini, aku berusaha untuk lebih berhati-hati dalam mengeluarkan kata. Mungkin aku jadi terlalu banyak berpikir berlebihan saat akan mengeluarkan kata, tapi itu lebih baik daripada berkata seenaknya. Kita tidak tahu sedalam apa luka di dalam hati orang lain dari kata yang kita ucapkan, kita tidak tahu juga apa luka itu bisa sembuh.

Aku harap di dunia ini hanya ada kata-kata baik, orang- hanya mengucapkan kata-kata baik. Tapi karena itu terlalu muluk, aku harap setidaknya aku memberi kata yang baik. Atau setidaknya diam saja, daripada mengeluarkan kata yang buruk.

(Migrasi dari Tumblr, 13 Agustus 2020)

pena runcing
ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Author: ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *