Yang Berjalan dan Yang Terbang: Ken

ken

Bagian 1 | KEN – Pertama kali Mara bertemu dengan Ken adalah pada hari yang sangat melelahkan.

Selama beberapa hari pekerjaannya di kantor sangat menumpuk, dan hari itu adalah puncaknya. Hari itu entah mengapa banyak orang yang meminta disiapkan dokumen ini itu pada Mara yang merupakan bagian Administrasi. Mara susah payah menyelesaikan semua pekerjaannya di jam kerja agar tak perlu lembur, karena di hari yang sama itu juga ia harus mengurus sesuatu di Icarus.

Icarus adalah klub film independen di mana Mara bergabung menjadi anggotanya selama tiga bulan ini. Peran resminya adalah penulis naskah, tapi di klub film kecil seperti ini tidak ada keterikatan hanya pada peran-peran tertentu. Artinya, Mara harus siap turut serta melakukan hal-hal di luar peran resminya jika dibutuhkan. Apalagi Icarus hanya memiliki empat anggota, di mana keempatnya memiliki pekerjaan utama penuh waktu di tempat yang berbeda-beda.

Sebenarnya pertemuan resmi Icarus dilakukan pada akhir pekan, tapi terkadang mereka mengadakan pertemuan dadakan jika ada sesuatu seperti saat itu. Kemarin malam Rendy – produser, sutradara, sekaligus leader Icarus – memberitahu di grup chatting mereka kalau ada masalah terkait lokasi shooting. Selain itu, muncul kendala waktu terkait bentrok jadwal talent mereka. Jadi Rendy meminta mereka berkumpul untuk mengurus masalah-masalah tersebut, termasuk pada Mara untuk menyesuaikan naskahnya.

Selain Rendy dan Mara, kedua anggota Icarus lainnya adalah Bagas sebagai kameramen dan Kania yang mengurusi wardrobe, make up, juga talent. Tapi sama seperti Mara, peran-peran itu hanyalah peran resmi semata. Dan sama seperti yang telah dibilang sebelumnya, ketiga anggota Icarus lainnya memiliki pekerjaan utama di luar kegiatan membuat film ini. Rendy adalah orang IT, Bagas orang desain, dan Kania merupakan pegawai customer service sebuah bank swasta. 

Ketika Mara sampai di markas Icarus, yang sebenarnya adalah rumah Rendy, ia mendapati Rendy dan Bagas di sana. Kania belum terlihat. Dari keempatnya, hanya Mara dan Kania yang terikat jam kerja kantor seperti kebanyakan pegawai kantoran. Sedangkan waktu kerja Rendy dan Bagas lebih fleksibel sehingga keduanya menjadi yang paling sering berada di markas Icarus. Keduanya sedang membahas sesuatu terkait lokasi shooting ketika Mara menyapa mereka seadanya. Seperti biasa, Mara tidak suka turut bergabung dalam percakapan kalau pertemuan belum benar-benar dimulai. 

Apalagi di hari yang melelahkan dan panjang seperti sekarang ini. 

Karena Rendy bilang mereka akan mulai kalau semuanya sudah datang, Mara pun memilih untuk menghempaskan dirinya di sofa. Markas Icarus ini memang cukup nyaman, berada di pemukiman daerah Otista yang cukup padat tapi tidak terlalu dekat jalan raya. Kalau anggota Icarus sedang tidak datang maka hanya ada Rendy di situ. Orang tua Rendy memilih untuk menghabiskan masa pensiun di kampung halaman mereka, Yogyakarta, dan menyerahkan rumah ini pada putra semata wayang mereka itu.

Mara lalu memanfaatkan waktunya untuk mencoba beristirahat sejenak dengan memejamkan matanya yang terbuka sepanjang hari. Matanya terasa begitu perih karena menatap layar komputer seharian, bahkan di jam istirahat. Sedangkan tubuhnya terasa benar-benar rontok sekarang, hampir tidak ada tenaga yang tersisa. Mara baru ingat kalau tadi siang ia belum sempat makan dan jadi agak menyesal kenapa sepulang kerja ia tidak mampir beli makanan dulu. Pikirannya yang lelah itu pun mengembara kemana-mana, termasuk apakah sebaiknya ia berhenti dari Icarus.

Atau tidak.

Sejujurnya ini bukan pertama kali Mara memikirkan, bahkan sudah dalam tahap mempertimbangkan, untuk menghentikan kegiatannya di Icarus. Dengan alasan yang selalu sama: tubuhnya hampir tidak sanggup menjalani semua ini. Bekerja lima hari dalam seminggu dari pukul 9 pagi sampai 6 sore saja sudah sangat menguras tenaganya, apalagi ditambah dengan aktivitas penuh di akhir pekan. Juga di malam hari sepulang kerja jika ada hal-hal seperti ini, yang bukan hanya terjadi satu atau dua kali. Tapi Mara tahu betul kalau pemikiran dan pertimbangan itu hanya akan bertahan dalam kepalanya, tidak benar-benar ia lakukan.

Karena toh Mara tahu kalau ia tidak bisa berhenti dari Icarus. Tidak setelah ia akhirnya menemukan tempat di mana ia bisa melakukan hal yang benar-benar disukainya, yang diimpikannya sedari dulu; menulis naskah dan membuat film.

Tapi saat itu, Mara memang lelah sekali. Kita tentu pernah mengalami saat-saat di mana tubuh terlalu lelah untuk terus berjalan, tapi hati terasa berat untuk berhenti. Di saat seperti itu, biasanya segelas coklat hangat dan makanan manis akan sedikit membantu. Mara jadi mulai bertanya-tanya apakah lebih baik ia memesan makanan dulu karena toh mereka masih menunggu Kania.

Dan pada saat itulah, Mara bertemu dengan Ken.

“Oh, ini Mara yang anak baru itu, ya?” suara riang itu membuat Mara membuka matanya. Ia baru tersadar kalau sekarang markas Icarus sudah ramai, seperti ada banyak orang. Tapi sebenarnya hanya ada satu orang tambahan dari yang biasanya ada di sini, seorang pemuda dengan senyum lebar dan raut wajah cerah yang datang bersama Kania. Pemuda yang kemudian akan diketahui Mara bernama Ken. Mara mengerjapkan matanya, tambahan satu orang ini membuat perubahan suasana yang besar sehingga di Icarus sekarang terasa seperti ada lebih dari lima orang.

“Halo, Mara!” sapa Ken, masih dengan suara riangnya, yang tiba-tiba sudah duduk bersebelahan dengan Mara di sofa. Ken menepuk bahu Mara santai, seolah mereka sudah kenal lama. Mara hanya melihatnya dengan pandangan bingung, mengerutkan kening tanpa berkata apa-apa. Rasa lelah membuatnya sulit berpikir untuk mencerna apa yang terjadi, apalagi mengucapkan sesuatu. Tapi gadis itu menyadari tangan Ken di bahunya, dan ia pun menggerakkan bahunya agar tangan pemuda itu terlepas.

“Ken, lo biasa banget, deh!” tegur Kania, menepuk tangan Ken kesal. Kania lalu memaksakan senyum pada Mara, berusaha meminta pengertian gadis itu. Kania tahu betul kalau Mara tidak akan suka dengan sikap Ken yang kadang memang kelewat friendly itu. Semua anggota Icarus tahu kalau Mara menjaga jarak dari orang lain, apalagi dengan orang yang baru bertemu. Sampai sekarang saja Kania belum berani melakukan apa yang dilakukan Ken barusan.

Melihat Mara tidak bereaksi apa-apa, Kania pun mengambil inisiatif selanjutnya untuk memperkenalkan kedua orang yang duduk di hadapannya itu. “Mara, ini Ken. Dia anggota lama sebenarnya, cuma pas lo gabung dia cuti dari Icarus karena lagi ada training kerja di Australia. Ken memang begini anaknya, terlalu easygoing, jadi lo harap maklum ya.”

Mara lalu menatap Ken yang tersenyum lebar kepadanya dan mengulurkan tangannya. “Halo lagi, Mara. Gue Ken, biasanya pegang kamera. Tapi lo tahu Icarus gimana kan, gue biasa serabutan juga kalau lagi banyak kerjaan.” 

Bukankah ini yang seharusnya dilakukannya sejak awal? Mara bertanya-tanya dalam hati, tapi menyalami uluran tangan Ken itu dengan singkat. Mara berharap mereka menyudahi perkenalan ini dan langsung membahas soal urusan penting Icarus saja. Ia ingin urusan-urusan yang hari ini segera selesai, lalu ia bisa pulang dan tidur nyenyak. Tapi tampaknya Ken tidak memiliki pemikiran yang sama.

“Katanya lo yang nulis naskah akhir-akhir ini, ya? Gue sering dengar cerita dari anak-anak tentang lo. Gue juga udah baca naskah-naskah lo dan gue suka, bagus-bagus!” ujar Ken lagi. 

Mara hanya mengangguk pendek. Ia tidak tahu bagaimana harus menyahuti ucapan pemuda yang baru ditemuinya pertama kali itu. Tapi lagi-lagi Ken nampaknya tidak merasa terganggu atau berkecil hati dengan respon seadanya dari Mara, dan terus berkata ini itu; kebanyakan membahas naskah-naskah yang pernah ditulis Mara. Kania mengusap-usap kepalanya yang tidak gatal, merasa tidak akan bisa menghentikan Ken.

“Oke, oke. Pendekatan sama anak barunya distop dulu, Ken,” Rendy akhirnya memotong antusiasme Ken, ikut duduk bersama mereka. Bagas pun sudah ikut nimbrung, duduk bersebelahan dengan Kania. Mara tidak begitu sering merasa berterima kasih kepada Rendy, tapi kali ini ia benar-benar ingin mengucapkan terima kasih pada leader Icarus itu karena telah berhasil menghentikan cercauan Ken.

“Jadi lo udah fix bakal di Jakarta terus, Ken? Enggak, enggak. Kalaupun belum fix, gue mau lo pastikan itu jadi fix. Kita lagi kewalahan banget karena banyak kendala yang nggak disangka akhir-akhir ini, dan keberadaan lo benar-benar dibutuhkan,” ujar Rendy dengan nada tegas seperti biasa. Agak memaksa, tapi tidak ada yang keberatan dengan hal itu. Mereka sudah terbiasa dengan gaya Rendy yang seperti itu, yang membuat Icarus dapat terus berjalan dengan segala hambatan dan minim banyak hal.

Fix, Ren. Lo tenang aja. Gue udah ngancem atasan gue bakal resign kalau gue dilempar kemana-mana lagi. Gini-gini gue anak kesayangan atasan, tahu?” sahut Ken enteng, membuat mereka tersenyum geli. Kecuali Mara, tentunya. Gadis itu masih mencoba menerka orang seperti apa Ken ini.

“Oke, satu masalah beres berarti,” ujar Rendy sambil mengangguk-angguk, tampak mulai merencanakan beberapa perubahan yang akan dibuatnya. Sementara itu, Kania dan Bagas bergantian menanyai Ken tentang kehidupannya di Australia dengan antusias dan penuh rasa penasaran.

“Lo kemana aja di Aussie, Ken?” Bagas.

“Lo main-main ke Sydney, nggak? Ke Opera House-nya, nggak?” Kania.

“Lo pasti punya kenalan cewek Aussie, kan? Coba kenalin ke gue juga.” Bagas lagi.

“Ken, jangan bilang lo nggak bawa oleh-oleh buat kita setelah menikmati hidup di Aussie selama setengah tahun.” Kania protes.

Ken menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tanpa merasa kewalahan, menjawab semua dengan detail hingga rasa penasaran mereka terpenuhi. Mara hanya memperhatikan semua itu tanpa berkata apa-apa. Mara pada dasarnya memang tidak ingin banyak bicara, ditambah ia mulai menyimpulkan orang seperti apa Ken ini.

Singkatnya, di mata Mara, Ken adalah orang yang sangat bertolak belakang dengannya. Semua hal yang dilakukan dan diucapkan pemuda itu adalah hal-hal yang kemungkinan tidak akan pernah keluar dari diri Mara. Ken adalah tipe orang yang dapat mudah membuka percakapan dan bergaul dengan baik dengan siapapun. Yang tidak memiliki beban dalam hidupnya, menjalani hal-hal dengan lancar. Tipe yang tumbuh besar dengan penuh cinta dan kasih sayang dari keluarga serta orang-orang sekitarnya, tanpa mengalami kesulitan yang berarti.

Ken terlihat sangat terang di mata Mara. Berbanding terbalik dengan Mara yang cenderung gelap, Ken terlihat begitu bersinar dan bercahaya. 

Dan Mara tidak begitu menyukai orang-orang yang berkebalikan dengannya. Selama ini Mara percaya kalau manusia lebih bisa tertarik dan relate dengan orang-orang yang memiliki kesamaan dengannya. Bukan yang berbanding terbalik seperti Ken ini. Ada sesuatu dari dalam diri Mara yang seolah menyuruhnya untuk tidak terlibat jauh dengan Ken.

Percakapan antara Ken, Kania, dan Bagas masih berlangsung dengan seru. Rendy ikut nimbrung satu dua kali. Mara melirik jam di pergelangan tangannya, mengira-ngira kapan pertemuan kali ini akan berakhir. Ia benar-benar merasa lelah dan ingin semuanya cepat berakhir. Tapi kehadiran Ken saat itu membuat Mara merasa lebih lelah dan berpikir kalau pemuda itu hanya akan membuat waktu istirahatnya berkurang saja. 

Kenapa dari semua hari, Ken memilih untuk datang hari ini? Mara mengeluh dalam hati.

Sampai kemudian pemuda itu mengeluarkan sebuah bungkusan plastik yang mengeluarkan wangi harum. Wangi yang sangat Mara kenal.

“Ken, lo jauh-jauh dari Aussie cuma bawain kita martabak?”

Mara bisa mendengar Kania protes lagi, tapi suasana hatinya berbanding terbalik. Mara sama sekali tidak protes. Matanya membesar, menunggu bungkusan martabak itu dibuka. Terutama martabak manis kesukaannya. Mara mulai berpikir kalau mungkin kehadiran Ken saat itu tidak buruk-buruk amat. Setidaknya pemuda itu membantu menyelamatkan perutnya yang sudah menggila. Makanan manis selalu dapat menyelamatkan hari terburuk sekalipun.

pena runcing
ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Author: ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *