Pyramid Game: More Than a Bullying Story

pyramid game

Disclaimer: Tulisan ini akan membahas isi drama Pyramid Game. Buat yang nggak suka spoiler, silakan tonton dulu dramanya dan balik lagi ke sini buat baca, ya!

Sebelum nonton Pyramid Game, aku lagi di fase nggak ngikutin drakor apapun. Kayak bosen aja gitu dan kebetulan nggak ada yang menarik buatku pribadi.

Kayaknya yang aku tontonin waktu itu pun justru drama yang udah tamat dari kapan tahu, bukan drama yang masih tayang atau belum lama tamat.

Dan aku juga bosen sama drama tentang bullying, tanpa mengecilkan seriusnya perkara itu. Cuma di drakor, yang diangkat itu lagi itu lagi dan kayak nggak menarik aja.

Terus kayak anak sekolah di Korea jahat-jahat banget gitu, sedikit-dikit nge-bully mulu. Nggak enak banget buat nonton deh pokoknya.

Then, the Pyramid Came

Sampai kemudian tayanglah Pyramid Game ini. Aku tertarik sama drama ini karena Bona, yang aku suka banget dia sebagai Go Yurim di 2521. Bahkan drama terakhirnya yang saeguk sama Woo Dohwan pun aku tonton.

Cuma pas tahu ini tentang bullying, aku sempat berpikir buat nggak nonton tuh. Kayak; yah bullying lagi masa.

Cuma lagi, ternyata drama ini hype kan dan katanya seru. Aku nonton di menit pertama kok udah ngeri ada yang bawa-bawa cutter atau pisau gitu, jadi mengurungkan niat buat ngikutin on going. 

Baru pas udah tamat, aku tonton maraton drama ini yang ternyata emang seru banget! Sekali nonton susah buat lepas dari layar, kayak ada aja yang bikin bertahan. Nanggung deh sedikit lagi; gitu aja terus sampai begadang wkwkwk.

Dan setelah nonton drama itu, yang udah aku ulang beberapa kali juga di beberapa scene; bikin aku pengen share banyak. Jadi di tulisan ini, aku mau bahas beberapa hal yang menarik dari Pyramid Game dari sudut pandangku.

So, let’s get going!

1. Penyajian Cerita Pyramid Game yang Segar

Salah satu hal utama yang bikin aku terlarut dalam drama ini adalah penyajian cerita yang segar.

Topik bullying tentu aja bukan pertama kali dibahas di drama ini, udah banyak banget drama yang angkat juga. Tapi Pyramid Game bisa mengemas topik tersebut dari angle yang beda banget, yang mungkin bisa dibilang unik juga.

Aku masih pakai kata “mungkin” karena seperti yang kubilang tadi, ini bukan pertama kalinya bullying diangkat dalam drama. Cuma Pyramid Game bisa menceritakannya dengan pola yang berbeda dari biasanya, yang ada permainan psikologis juga di dalamnya.

Premis cerita dibuat sangat menarik yang berfokus pada permainan gila yaitu Pyramid Game, di mana mereka vote buat “orang-orang yang ingin kalian beri terima kasih”.

Itu semacam popularity voting tapi hasilnya malah membentuk sistem kasta dalam kelas. Dan jahatnya, mereka bahkan membentuk kelas paling bawah yaitu kategori F yang “legal” buat di-bully.

Premis itu yang bisa kubilang daya tarik terbesar dari drama ini.

Pyramid Game bukan sekadar menggambarkan kasus bullying di sekolah, yang biasanya ada para “centeng” kelas yang menindas mereka yang lemah. Tapi ini adalah bullying yang dimodifikasi dan disusun dengan sistem tertentu, yang itu tuh gila banget. 

Sepanjang nonton aku terus membatin, ih gila-gila banget nih anak-anak. Masa sih mereka nggak ngerasa ini salah? Masa sih nggak ngerasa kalau ini bullying?

Kalau dipikir secara logika paling sederhana, mereka sedang menunjuk orang yang ingin di-bully dengan persetujuan bersama atas nama game. Kan itu ngaco banget, apalagi pada akhirnya mereka seolah mewajarkan praktik bullying itu dan menutup mata. 

Tapi ya justru di situ gregetnya. Hal-hal yang sebenarnya udah keliatan jelas, tapi seolah nggak terlihat sejelas itu di drama ini. Atau mungkin tepatnya, tidak ingin melihat dengan jelas selama bukan mereka korbannya.

Scenes dalam Pyramid Game

Dibanding beberapa drama yang bahas bullying, scenes di Pyramid Game mungkin nggak terlalu “keras”. Tapi lebih dapat dari segi psikologisnya, gimana tertekannya para korban dari permainan gila itu. 

Ada juga scenes yang kayak punya makna tertentu gitu, detail-detail yang seolah menunjukkan sesuatu. Dan sejujurnya ada beberapa scene yang aku nggak terlalu paham maknanya, saking itu kok implisit banget yah.

Jadi meskipun apa yang diangkat bukan sesuatu yang baru, cara penyajian yang segar dan alur cerita apik membuat drama ini menarik. Drama ini bahkan nggak ada plot hole-nya!

Jarang banget aku nemu drakor yang begini. Semua terjawab, nggak ada scene yang mengganjal, pokoknya aku suka banget alurnya.

Paling yang aku agak kurang puas adalah ending para villain, kurang menderita gitu. Yah maklum namanya lulusan sinetron hidayah, ngelihat penjahat nggak kena azab tuh gimana gitu wkwkwk.

2. Perkembangan Karakter yang Solid dalam Pyramid Game

pyramid game
My favorite duo!

Selain cerita yang seru, aku juga suka banget sama tokoh-tokoh di Pyramid Game ini. Favoritku tentu aja kolaborasi Sung Sooji dan Moon Jaeun, dua orang yang bertolak belakang tapi ternyata pas kombo malah jadi duet maut wkwkwk.

Aku suka pintarnya Sooji (Bona), yang selalu bisa dengan cepat membaca situasi. Sooji memang punya berbagai plan dan back up plan untuk jaga-jaga, tapi dia juga cepat tanggap.

Dia selalu mengamati sekeliling dan bertindaknya cepat banget. Jadinya pas sama sikon, pintar banget pokoknya Sooji ini.

Karena pintar, Sooji jadi lawan yang sepadan buat the ultimate villain si Baek Harin (Jang Da Ah). Nggak jarang aku kaget dengan “terobosan” yang Sooji lakukan, keren banget dia bisa mikir secepat itu dalam kondisi terjepit sekalipun. Bahkan saking pintarnya, Sooji sempat terlihat mirip sifatnya sama Baek Harin.

Dan untuk Jaeun (Ryu Dain), dia ini kebalikan banget dari Sooji. Kalau Sooji apa-apa pakai logika, Jaeun lebih besar porsi perasaannya. Kalau ini anak dua tes MBTI, pasti Sooji ini persentase T-nya tinggi dan Jaeun F-nya yang tinggi wkwkwk. 

Jaeun yang ternyata lemah lembut itu juga jadi daya tarik tersendiri dari drama ini, karena pas awal dia nggak terlihat seperti itu. Jaeun di awal-awal kayak anak berandalan yang nakal, eh ternyata dia anak polos, baik hati, dan ceroboh juga.

Aku beberapa kali ketawa karena Jaeun yang suka tahu-tahu jatuh dan kesandung, terus suka planga-plongo juga. Kaget juga kalo ternyata si Jaeun ini anaknya cute gitu.

Perkembangan Karakter Sooji & Jaeun

Selain dua sifat yang bertolak belakang, perkembangan karakter masing-masing juga begitu solid.

Sooji yang awalnya mengedepankan logika banget, bahkan hampir menyamai Baek Harin, perlahan berkembang jadi sosok yang lebih humanis. Dia lebih bisa memahami perasaan orang lain, tapi masih tetap pintar untuk mencari solusi dari permasalahan mereka.

Jaeun, di sisi lain, juga berkembang karakternya. Jaeun emang baik, tapi terlalu baik sampai mudah dimanipulasi sama orang-orang macam Baek Harin.

Kalau dia lebih lama lagi begitu, mungkin akan ngeselin dan merusak rencana tentunya. Tapi untungnya mendekati akhir, Jaeun sadar dan bisa berpikir dengan lebih logis.

Jadi perkembangan karakter mereka berdua itu lebih ke kombo, hybrid, persilangan, dan semacamnya. Sifat-sifat baik Jaeun masuk ke Sooji, sifat-sifat Sooji juga ada yang masuk ke Jaeun.

Meski mereka tetap dengan karakter kuat dan sifat dasarnya masing-masing, tapi sama-sama berkembang dengan baik.

Selain mereka berdua, perkembangan karakter juga terlihat pada tokoh-tokoh lain yang ada di kelas itu. Terutama mereka yang selama ini berperan sebagai bystander.

Mereka yang tadinya hanya menonton tanpa melakukan apa-apa pun pelan-pelan tergerak karena melihat gimana upaya Sooji cs untuk menjatuhkan Baek Harin beserta piramidanya.

Uniknya Malatang Club

Ini adalah sebutan pribadiku buat Sooji cs, gara-gara pada ngidam banget makan Malatang bareng wkwk.

Aku suka anak-anak “geng” Sooji cs alias Malatang Club yang unik dengan kepribadiannya masing-masing.

Dari Yerim (Kang Na Eon) yang idol banget, tapi likeable dan beneran baik banget orangnya. Biasanya tokoh begini kan dijadiin villain ya kalau di drama, tapi di Pyramid Game justru dia adalah tokoh yang baik.

Terus Song Jaehyung (Oh Se Eun) yang memberikan warna segar di drama yang sangat berpotensi buat suram ini hahaha. Scenes dia tuh sering banget cerah sendiri, apalagi setelah adegan yang serius-serius gitu. Anaknya ceplas-ceplos lagi, tapi anehnya aku nggak bisa sebel ama dia hahaha.

Kalau Pyo Ji Ae (Kim Se Hee), sebenarnya aku sempat nggak terlalu senang sama dia. Gara-gara ini anak sempat berkhianat kan, yah meski akhirnya baikan lagi.

Tapi aku suka interaksi dia awal-awal pas masih main sama Sooji dan Jaeun, termasuk founder (?) geng ini juga lah. Aku juga suka di scene Ji Ae minta maaf karena mengkhianati mereka pas tembak-tembakan itu.

Karena dia mulai minta maaf, scene yang tadinya menegangkan itu malah jadi adegan yang menghangatkan hati. Plus jadi kayak simbol bersatunya kembali mereka, dengan lebih kuat tentunya.

Selain Malatang Club, satu karakter yang aku harapkan bisa digali dan dikembangkan lebih dalam adalah Seo Do Ah (Shin Seul Ki). Seo Do Ah ini kayak sayang banget menjadi bagian dari gerombolan Baek Harin, meski mungkin di situ juga gregetnya.

Tapi Seo Do Ah sangat bisa untuk menjadi baik, walaupun itu terjadi juga tapi di akhir-akhir banget. Aku harap dia bisa lebih cepat jadi baiknya, dan mau lihat interaksinya lebih lama sama Sooji cs.

Kalau Baek Harin gimana?

Duh, males banget nggak sih bahas dia? Hahahaha. Aku tuh keseeeel banget sama dia sampai tiap dia muncul bawaannya pengen gampar.

Di satu sisi, emang bagus aktingnya sampai sedapat itu ngeselinnya. Tapi mungkin karena kebawa kesel, aku nggak mau bahas dia dan memberi credit lebih pada tokoh dia. 

Meski lagi-lagi, yang bikin drama ini seru juga tentu aja keberadaan Baek Harin sebagai villain. Tapi udah sampai situ aja, aku nggak mau bahas lebih lanjut hihihi.

Yang udah nonton, yah sama-sama tahu aja dia gimana. Yang belum nonton tapi udah baca sampai sini, ya udah tonton dulu aja 😀 

3. Menjadi Monster Itu Menular

Kalimat di atas adalah line Sooji yang langsung ngena banget di hati, benar-benar menggambarkan gimana kondisi kelas dan permainan kacau itu.

Aku sempat shock pas lihat gimana awal mula permainan itu terbentuk. Kukira emang Baek Harin yang menentukan semua peraturan dan setting semua detailnya, tapi ternyata permainan dan kekejaman anak-anak itu berevolusi sendiri.

Dari yang awalnya mungkin mereka masih ngerasa kok ini aneh, sampai lama-lama hal tersebut jadi wajar. Penindasan kepada kategori F menjadi hal yang lumrah, seolah ya emang itu kodratnya.

Yang awalnya cuma buat sistem kasta dan memberi hak istimewa buat golongan A, sampai kemudian tercipta penindasan ke kategori F. Yang awalnya karena nggak sengaja mukul, sampai kemudian jadi kebiasaan dan bahkan diamini oleh anak-anak sekelas.

Aku miris banget pas scenes anak-anak kelas ikutan bully Sooji ketika dia di kategori F, atas nama peraturan dalam game.

Seolah semua yang mereka lakukan sah-sah saja selama diatur dalam Pyramid Game itu. Yang tadinya hanya oknum-oknum inti seperti Baek Harin cs, sampai menular ke hampir seisi kelas juga.

Itu benar-benar menggambarkan apa yang dibilang Sooji, kalau menjadi monster itu menular. Kelas itu pernah berada pada titik di mana hampir semuanya jahat banget.

Bukan cuma nonton, tapi ikutan “isengin” orang yang ada di kategori F. Mereka yang berada di kategori atas F pun jadi merasa punya kuasa lebih dan bisa bertindak sesuka hati ke kategori yang bawahnya.

Gaslighting yang Rapi dalam Pyramid Game

Satu hal juga yang terasa pas nonton drama ini adalah Baek Harin yang melakukan gaslighting dengan terstruktur dan terencana rapi.

Baek Harin bisa banget memberikan kesan seolah “permainan” yang mereka lakukan bukan hal yang salah, apa yang mereka lakukan pada teman-teman di kategori lebih rendah itu nggak salah. Baek Harin sedang menciptakan kaki tangan yang mungkin tidak disadari oleh anak-anak kelas itu.

Karena gaslighting itu, ada titik-titik di mana apa yang terjadi dalam permainan itu nggak terasa sebagai sesuatu yang bermasalah.

Baek Harin pintar banget mengemas premis; ini permainan bersama, ini cuma permainan, ini aturan bersama. Dia pun berhasil menjadikan permainan itu disetujui dan dilakukan oleh mayoritas, menjadikan hal tersebut seolah sesuatu yang benar dan nggak ada masalah dengan itu.

Gaslighting itu membuat orang-orang yang nggak setuju dan ingin melawan justru mempertanyakan diri sendiri, sebenarnya yang gue lakuin ini benar nggak, sih?

4. Perjuangan Mendobrak Sistem di Pyramid Game

Di Pyramid Game, kita ditunjukkan bagaimana caranya mendobrak atau bahkan merobohkan sistem.

Perjuangan Sooji cs buat “menggulingkan” Pyramid Game dan kekuasaan Baek Harin benar-benar nunjukin apa yang terjadi saat kita ingin mendobrak sistem. Dan tentu aja, proses dan perjuangannya sangat amat nggak mudah.

Nah, gimana caranya?

Dibutuhkan otak yang pintar, tapi nggak culas, nggak licik; dan cepat mikir. Selain itu, diperlukan juga hati yang baik, minimal bergaul sama teman yang baik.

Di mana dapat semua itu? Tentu aja perpaduan dari Sooji dan Jaeun!

Kalau masing-masing berjalan sendiri, nggak akan bisa berhasil. Kalau Sooji cuma mengandalkan otaknya tanpa memberi kepercayaan pada teman-temannya, dia nggak akan berhasil.

Begitu juga Jaeun, kalau cuma mengandalkan perasaan dan kepercayaan tanpa pakai logika, dia juga nggak akan berhasil.

Perjuangan merobohkan sistem yang seolah udah mengakar juga sangat sulit, dan kayak nggak mungkin. Itu juga yang sempat aku rasakan pas nonton drama ini, meski tentu aja aku rooting for our leads to solve the problem.

Cuma nggak berharap banyak juga, karena kayak udah susah banget dan Baek Harin ini jahatnya ampun-ampunan banget.

Tapi seperti yang udah aku bahas sebelumnya, kolab Sooji cs ini keren banget. Sooji yang jadi otak dari pergerakan ini selalu punya cara buat mengatasi masalah yang mereka hadapi.

Dan ketika Sooji yang merasa nggak berdaya dan terjebak, gantian teman-temannya turun tangan. Keren banget pokoknya, aku suka banget interaksi mereka dan gimana cara mereka bersatu buat ngancurin game itu.

Persahabatan Bagai Kepompong-nya Malatang Club

Ngomong-ngomong soal interaksi, aku juga suka banget sama pertemanan Malatang Club ini.

Mereka awalnya “cuma” disatukan dengan kepentingan yang sama, yaitu meruntuhkan Pyramid Game beserta Baek Harin. Tapi lama-lama, hubungan mereka lebih dalam dari itu dan mereka jadi bestie beneran.

Aku suka banget pokoknya tiap liat scene mereka yang lagi bareng-bareng, apalagi yang receh-recehnya. Tiap mereka lagi kumpul-kumpul di atap sekolah atau minimarket langganan, seru aja lihat obrolan mereka. Kayak memberikan penyegaran tersendiri dari hal-hal serius yang sedang mereka perjuangkan gitu.

Salah satu scene favoritku adalah pas tembak-tembakan itu, yang udah sempat aku ulas juga di atas. Di situ mereka kelihatan banget kompaknya, terus jadi bersatu lagi juga setelah sedang digoyang solidaritasnya sama Baek Harin.

Aku juga suka scene mendekati ending, di mana mereka ngobrol random layaknya remaja pada umumnya. Terharu aja mereka bisa sampai di titik itu setelah segala sesuatu yang terjadi, sampai berapa kali aku ulang bagian itu hahaha.

5. Semua Orang Punya Pilihan

Aku nggak suka Baek Harin, tapi aku suka poster ini (sumber)

Salah satu hal yang ditunjukkan oleh drama Pyramid Game adalah bagaimana semua orang punya pilihan. Dalam kasus ini, aku akan menggarisbawahi Sooji dan Baek Harin.

Seperti yang aku ulas sebelumnya, Sooji ini sifatnya mirip banget sama Baek Harin. Cara berpikir dia pun mirip banget sama Harin, terutama bagian memanfaatkan kelemahan orang lain untuk kepentingannya.

Meski dia nggak menggunakannya untuk ngejahatin orang, tapi Sooji sangat berpotensi untuk menjadi seperti Baek Harin. Tapi, Sooji memilih untuk nggak jadi seperti itu.

Sooji nggak sudi kalau dia jadi orang yang sama dengan Baek Harin, dan dia memilih jalan yang berbeda. Inilah yang akhirnya membuat perkembangan karakter Sooji jadi lebih baik, dan dia berhasil untuk tidak menjadi kacau kayak Baek Harin.

Di sisi lain, Baek Harin juga punya pilihan. Tapi bedanya, dia nggak ambil pilihan itu. Dia memutuskan untuk memanfaatkan kekuasaannya sambil playing victim atas masa lalunya.

Padahal seperti yang Sooji bilang, baik Yang So Eun (Harin pas kecil) maupun Baek Harin sama-sama punya pilihan. Punya kesempatan untuk menjadi orang seperti apa; lebih baik atau menenggelamkan diri dalam kekacauan.

Dari aspek tersebut, Pyramid Game seolah menunjukkan bahwa tidak ada pembenaran untuk pelaku bullying. Harin yang dulu pernah di-bully pas SD tidak menjadi alasan dibenarkannya dia membangun sistem bully dengan topeng permainan.

Karena pada akhirnya, seperti kata Sooji, Harin menjadi seorang pelaku ketika membuat game dan sistem itu; bukan lagi korban.

6. Batas Samar antara Fiksi dan Realita

Pyramid Game bukan cuma menceritakan tentang fenomena bullying, tapi juga menggambarkan sistem dan kondisi masyarakat.

Drama itu bahkan jelas-jelas menyebutkan bahwa sekolah adalah miniatur dari sistem masyarakat. Bagaimana hirarki dan tingkatan yang akan selalu ada dalam masyarakat, dan semacamnya.

Di drama ini, Baek Harin cs menggambarkan gimana kekuasaan dan kekayaan yang memegang kekuatan dalam masyarakat.

Anak-anak yang nurut dalam permainan Pyramid Game kebanyakan yang orang tuanya bekerja dengan orang tua Baek Harin cs. Artinya, pada akhirnya mereka mau tidak mau tunduk pada pihak yang lebih berkuasa dan paling banyak cuannya.

Sementara itu, mereka yang berada di puncak piramida lah yang menikmati berbagai privilege dan kekuasaan. Bukan cuma hal yang enak dan nyaman, tapi juga sampai menyiksa orang lain.

Dan siapa yang paling menderita? Tentu aja yang berada di tingkat terbawah piramida.

Sama banget dengan kenyataan di masyarakat, bukan?

Meski tentu saja akan lebih relate dengan kondisi masyarakat Korea Selatan, penggambaran dalam Pyramid Game juga sedikit banyak mirip dengan kondisi Indonesia. Disclaimer, ini pendapatku pribadi, ya.

Mungkin karena kondisi Indonesia lagi carut-marut dan politiknya panas banget, aku selalu teringat gimana negeri kita sepanjang nonton drama ini. Diwajarkannya hal-hal yang sebenarnya melanggar, gaslighting yang tingkatnya sudah nasional, bagi-bagi kekuasaan dan harta di tingkat elit, yang menderita pasti rakyat yang paling bawah.

Oke, hal-hal lain mungkin udah jelas, ya. Cuma aku mau bahas lebih lanjut soal gaslighting nasional ini.

Beberapa kali ada redaksi dari para penguasa yang seolah menunjukkan kalau pihak yang ingin “melawan” mereka adalah salah, apalagi akhir-akhir ini. Ada yang kritik dibilang buzzer, ada yang nggak setuju dengan pemerintah dibilang ingin memecah belah persatuan. 

Gaslighting ini membuat seolah-olah negara dan rakyat sedang baik-baik aja, dan lebay banget orang-orang yang mempertanyakan itu semua. Sejujurnya aku pun sempat kena gaslighting ini, di mana aku mempertanyakan apa sebenarnya lebay kalau protes sedangkan negeri ini baik-baik saja?

Oke, ini udah cukup melebar ke bahasan lain.

Intinya aku mau bilang kalau apa yang digambarkan Pyramid Game ini sangat menggambarkan kondisi masyarakat sekarang. Meski disajikan dengan cerita berlatar sekolah, apa yang terjadi di dalamnya sangat mencerminkan bagaimana sistem dan keadaan yang nyata.

7. Bullying, Permainan, Pertemanan

Sebenarnya setiap nonton drama yang membahas bullying, aku jadi merenung sendiri dan ingat-ingat bagaimana jaman sekolah dulu.

Bullying ini hal yang banyak memiliki area abu-abu kalau menurutku. Bukan abu-abu soal benar salahnya, karena sudah pasti salah. Tapi lebih ke abu-abu atas ingatan masing-masing pihak atas kejadiannya.

Kayak misalnya aku suka kepikiran, apakah aku sebenarnya pernah terlibat dalam bullying? Atau yang aku ingat sebagai permainan dan bercanda belaka, ternyata itu sebenarnya sedang bully teman? Dan, apakah aku juga seorang penonton seperti yang digambarkan Pyramid Game?

Salah satu hal yang diangkat dalam Pyramid Game adalah keberadaan penonton, yaitu orang-orang yang hanya melihat dan membiarkan bullying terjadi.

Memang bukan pelaku, memang tidak ikut mem-bully, tapi tidak melakukan apa-apa. Padahal tahu kalau itu salah dan ada yang membutuhkan pertolongan.

Yah, memang nggak mudah sih melakukan sesuatu; apalagi kalau lawannya kuat macam Baek Harin. Aku pun nggak bisa dengan lantang bilang kalau kita harus kayak Sooji cs, menghancurkan sistem piramida yang sebenarnya penindasan itu. Karena yah, emang nggak gampang.

Sepanjang nonton drama ini pun aku bertanya-tanya, kalau aku ada di drama itu; aku akan jadi siapa? Akan jadi pihak yang mana; melakukan sesuatu atau menonton saja?

Closing: Pyramid is Everywhere

Udah closing tapi kok masih satir wkwkwk.

Tapi ya gimana ya, emang piramida itu di mana-mana. Meski mungkin nggak sejelas di drama, tapi pasti ada aja tingkatan dan sistem hirarki yang kita temui di kehidupan nyata. Cuma semoga aja nggak separah di drama, dan nggak sampai ada penindasan, ya.

Aku sempat baca berita kalau drama ini dilarang buat ditonton sama anak sekolah di Korea Selatan bagian mana gitu, lupa tapi gimana detailnya. Aku setuju sih soal itu, karena takutnya malah jadi inspirasi buat bikin “permainan” serupa.

Cuma buat orang dewasa, aku sangat menyarankan buat nonton drama ini. Banyak yang bisa kita ambil dari drama ini, kayak yang udah aku jabarin di atas. Mungkin ada hal-hal lain juga yang luput dari pengamatan aku, jadi yang belum nonton silakan tonton, ya!

Aku juga kayaknya masih akan rewatch Pyramid Game di masa mendatang. Kemarin-kemarin aku baru rewatch lagi karena mau nulis review ini, dan ternyata ada hal-hal yang nggak aku ngeh sebelumnya. Mungkin kalau rewatch lagi, ada detail-detail yang baru aku ngerti nanti.

Selain itu, aku juga berniat mau baca versi webtoon dari drama ini. Tepatnya, aku mau lihat ending di webtoon gimana. Kali aja ternyata para villain– nya lebih menderita di webtoon, kan? Masih tetep keukeuh pengen lihat villian menderita hahaha.

So then, happy watching!

pyramid game
My favorite Sooji’s cut
pena runcing
ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Author: ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *