Bangku Kosong (Cerita Horor)

bangku kosong

Bangku Kosong – Disclaimer: Kisah ini adalah fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, atau kejadian hanyalah kebetulan.

Hari ini merupakan satu hari seperti yang lainnya, begitu melelahkan. Namun bagi Dela, hari ini berkali-kali lipat melelahkannya. Dari jam masuk kerja sampai sekarang pukul 8 malam, Dela hampir tidak beristirahat. Selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera, hari ini juga. Dela bahkan melewatkan makan siang saking sibuknya, dan baru sadar kalau perutnya kosong.

Tapi tubuh Dela begitu lelah sampai malas untuk mencari makan. Nanti saja di rumah, begitu pikir Dela. Dela pun bergegas merapikan barang-barangnya untuk bersiap pulang, mengingat tinggal ia sendiri di kantor. Membayangkan perjalanan panjang menggunakan kereta listrik alias KRL membuat Dela otomatis menghela napas. Rasanya ingin langsung sampai rumah saja.

Sambil menaiki lift, Dela memesan ojek online di aplikasi ponselnya. Tak lama lift pun terbuka, dan Dela melangkah ke lobi kantor untuk menunggu ojek pesanannya. Dela melongok ke kanan dan kiri, tidak menemukan tempat untuk duduk. Tubuhnya yang begitu lemas seperti tidak sanggup untuk berdiri lama-lama, jadi Dela pun beranjak ke luar gedung kantornya.

Tak jauh dari gedung kantor, Dela duduk pada bangku di pinggir jalan. Ditemani semilir angin sepoy-sepoy dari pohon di atasnya, Dela memejamkan mata perlahan. Coba nanti di kereta juga dapat duduk begini, batin Dela.

“Pulang, Neng?”

Sebuah suara membuyarkan pikiran Dela. Dela pun menoleh dan mendapati satu sosok tak jauh darinya. Karena gelap, Dela tidak terlalu melihatnya dengan jelas. Apalagi tubuhnya lelah dan matanya begitu berat. Yang jelas, itu adalah suara wanita. Kemungkinan paruh baya.

Dela pun mengangguk sambil tersenyum tipis. “Iya, Bu.”

“Ke mana pulangnya?”

“Bogor, Bu,” sahut Dela. Bertepatan dengan itu, ojek pesanan Dela sampai. Dela pun pamit kepada wanita itu, mengangguk sopan. “Mari, Bu.”

Dela tidak melihat bagaimana respon wanita tersebut karena terlalu gelap. Tapi menyimpulkan kalau pamitnya tersampaikan, Dela pun segera naik ojek dan meluncur ke stasiun. Dengan mata merem melek, Dela terus berharap semoga ia dapat duduk di kereta nanti.

Harapan Dela terkabul. Begitu kereta menuju rumahnya sampai, Dela dapat duduk dengan nyaman. Tak hanya itu, kondisi kereta pun cukup sepi. Bahkan bangku di sebelah Dela kosong, tidak ada yang menempati.

“Jam segini ternyata sepi keretanya, ya,” gumam Dela. Dela pun langsung bersandar sambil memejamkan mata, bersiap tidur. Dan karena tidak ingin menghalangi orang yang duduk di sebelahnya nanti, Dela pun memperbaiki posisinya. 

Dela terbangun di stasiun tujuannya. Sebelum turun, Dela sempat melihat kalau bangku di sebelahnya masih kosong. Mungkinkah terisi ketika ia tidur? Hal itu terlintas di pikiran Dela, namun ia tak ambil pusing dan buru-buru turun agar cepat sampai rumah.

Keesokan harinya, Dela kembali mendapat bangku kosong dan bisa duduk dengan nyaman di kereta. Dela girang sekaligus bingung, tumben sekali ia bisa dapat duduk 2 hari berturut-turut. Apalagi hari ini ia keluar kantor di jam pulang normal, pukul 6 lebih sedikit.

Tak hanya itu, bangku sebelah Dela lagi-lagi kosong. Dela melihat ke sekelilingnya, memang kondisi kereta hari itu tidak begitu penuh. Ada beberapa orang yang berdiri, namun sepertinya mereka memang memilih untuk tidak duduk. 

“Mungkin mereka pegal terlalu lama berdiri di kantor,” pikir Dela. Ia pun tak ambil pusing, kembali ambil posisi bersiap tidur di perjalanan. Dan begitu bangun, Dela tidak terlalu menghiraukan bangku sebelahnya yang masih kosong.

Di hari ketiga, Dela mulai merasa ada yang ganjil. Ia tetap naik kereta di jam pulang normal, dan kondisi kereta juga tidak terlalu sepi. Tapi bangku sebelahnya tetap kosong. Tidak ada juga orang yang berdiri dekat Dela, jadi ia tidak bisa menawarkan mereka untuk duduk di bangku sebelahnya itu.

“Ada apa ini? Apa sekarang orang mulai sadar kesehatan dan tidak mau duduk lama-lama?” pikir Dela. Tapi menurutnya, itu adalah hal yang aneh. Bangku kereta di jam berangkat dan pulang kerja begitu mahal nilainya. Biasanya Dela harus rebutan, tak jarang dorong-dorongan, demi mendapat bangku di kereta.

Khawatir ada yang terlewat karena ketiduran di perjalanan, Dela bertekad untuk bangun sepanjang jalan di hari keempat. Karena lagi-lagi, Dela mendapat bangku dengan mudah. Bahkan seperti diberi jalan oleh penumpang lain untuk mendapatkan bangku kereta. Dan lagi-lagi, bangku sebelahnya kosong.

Sepanjang perjalanan itu, Dela melihat sekeliling gerbong yang ia naiki. Hari keempat ini cukup padat dibanding kemarin-kemarin, namun tetap tidak ada yang duduk di bangku sebelahnya. Orang-orang seperti tidak mempedulikan keberadaan bangku kosong itu, seolah memilih berdiri saja. 

Padahal Dela tahu betul, para pekerja sepertinya pasti pegal kalau harus berdiri lama-lama di kereta. Apalagi sehabis bekerja seharian. Dela juga memastikan posisi duduknya tidak memakan banyak tempat, dan bangku sebelahnya cukup diduduki oleh satu orang. Tapi tetap saja tidak ada yang duduk di bangku kosong itu.

Di hari kelima, Dela tidak tahan lagi. Keheranannya memuncak, menurutnya ini sudah tidak masuk akal. Mendapatkan bangku dengan nyaman di hari kerja jam pulang selama 5 hari berturut-turut saja sudah aneh. Apalagi dengan kenyataan bahwa bangku sebelahnya selalu kosong, dan tidak ada yang mendudukinya.

Keadaan kereta hari ini cukup lowong, meski tidak sesepi hari pertama. Dela melihat sekelilingnya lagi, melihat apakah ada orang yang sekiranya butuh tempat duduk. Namun orang-orang berdiri jauh darinya, seolah sudah nyaman dengan posisi mereka.

Bertepatan dengan itu, ada seorang wanita yang berjalan dari gerbong sebelah. Sepertinya ia baru naik dari stasiun sebelumnya, matanya pun menyisir seisi gerbong seperti mencari bangku yang kosong. Dela pun mengambil kesempatan itu dan langsung menawarkan bangku pada sang wanita.

“Duduk di sini aja, Mbak,” ujar Dela. 

Si wanita menoleh, melihat Dela dan tersenyum sopan. “Terima kasih, Mbak. Mbak aja yang duduk, barangnya banyak,” ujar wanita itu seraya menunjuk tas Dela yang memang cukup besar.

Dela mengerutkan kening. Sepertinya wanita itu mengira kalau Dela hendak memberi bangkunya sendiri. Untuk memperjelas, Dela pun menunjuk bangku kosong di sebelahnya. “Di sini, Mbak.”

Kini si wanita yang mengerutkan kening heran. Lalu buru-buru menggeleng. “Nggak usah, Mbak. Kasihan itu neneknya kayaknya capek.”

Kerutan kening Dela semakin dalam. “Nenek? Ini kosong, kok,” sahut Dela sambil menoleh lagi ke sebelahnya. Bergantian menatap si wanita yang masih memandangnya dengan heran.

“Kosong?” Si wanita bertanya lagi, tak habis pikir.

“Iya, kos–” ucapan Dela terhenti. Perlahan, ia melihat bayangan sosok wanita paruh baya, tepatnya nenek-nenek, di sebelahnya. Awalnya seperti bayangan yang pudar, namun lama-kelamaan terlihat jelas.

Belum sempat Dela memulihkan diri dari kagetnya, ia mendengar suara yang familiar.

“Nenek juga pulang ke Bogor, Neng.”


Cerita ini cuma fiktif, ya. Tapi kalau kamu lagi baca di kereta, coba tengok dulu sebelahnya. 

Kali aja… 

pena runcing
ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Author: ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *