Engkau Ibu dan Aku Anakmu*

engkau ibu dan aku anakmu

Engkau Ibu dan Aku Anakmu – Langit merengkuh gelap. Perlahan dan makin pekat. Mengabarkan pada bumi bahwa hujan akan bertandang di atas lahannya.

Jangan pernah pandang langit saat seperti ini, percayalah padaku. Hati akan menyatu dengan warna langit.


Aku terpaku, menatap surat undangan berlogo SMA Negeri ternama itu tanpa bergairah. Surat undangan wali murid.

“Bu…”

“Hmmm…,” Ibu menyahut tanpa menoleh,seperti biasa. Seolah-olah memelototi tumpukan cucian jauh lebih berharga daripada melirik wajahku.

Aku terdiam, mataku menekuri langit-langit rumah peninggalan almarhum kakek ini. Detak jantungku berpacu dengan detak jarum jam. Otakku ikut menghitung pergerakan jarum jam. Dan berharap supaya tiga jarum itu berputar lebih cepat.

Supaya bapak cepat datang. Dan galauku hilang.

“Sri, nanti orang tuaku bakal datang di rapat wali murid!” ucapan riang Dewi tadi siang terngiang di telingaku.

“Orang tuamu sempat, Wi?” aku sangsi. Seketika gundah memelukku, teringat rapat wali murid itu.

“Iya! Kata Papa, kerjaan di Brunei udah beres. Makanya, mereka janji mau datang lusa!” sahut Dewi penuh semangat. Masih kuingat binar bahagia yang terpancar dari mata Dewi, mataku terpejam.

“Undangan apa?”

Aku tersentak, mataku terbuka. Suara Ibu mengagetkanku, dan juga membuatku salah tingkah. Ibu tak boleh tahu, bisik dalam hatiku.

“Mmm… itu… undangan… undangan… dari masjid… buat Bapak…,” aku berbohong, tergagap. “Aku mau mandi dulu,” aku bergegas bangkit.

Dari sudut mataku, kulihat Ibu menoleh. Menatap punggungku.


“Pak, ada undangan,” ucapku pada Bapak yang baru selesai makan. Ibu sudah tidur ketika menidurkan dua adik perempuanku. Adik laki-lakiku sedang belajar di kamarnya.

“Undangan apa, Nak?’ tanya Bapak lembut. Bapak selalu lembut dan penuh kasih sayang.

“Undangan rapat wali murid, Pak. Ini undangannya,” aku mengangsurkan undangan itu kepada Bapak.

Bapak membacanya sambil mengangguk-angguk. “Nanti Bapak datang.”

Aku tersenyum lebar.

“Bagaimana sekolahmu, Nak?” Bapak mengelus kepalaku. Andai Ibu seperti ini, rintih hatiku.

“Baik, Pak. Tadi Bapak Kepala Sekolah bilang kalau ada peluang beasiswa ke UI. Aku sudah daftar, minggu tes ke Salemba,” jawabku. Ada perasaan bangga menyelinap di hatiku.

“Wah, hebat anak Bapak! Tesnya sama siapa?” tanya Bapak antusias. Ah Bapak… betapa ingin aku selalu membanggakanmu…

“Berlima, Pak. Saingannya banyak, dari semua SMA di Indonesia.”

“Bapak yakin kamu bisa!” Bapak menepuk pundakku pelan. “Ibu sudah tahu?” tanya Bapak kemudian.

Aku terdiam beberapa saat.

“Bapak saja nanti yang bilang ke Ibu,” jawabku singkat.

Mata Bapak berkabut.

pena runcing
ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Author: ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *