Avocado vs Choco Blend; Bukan Semata Perkara Selera

avocado vs choco blend

Sebelum ada misleading karena judulnya Avocado vs Choco Blend, aku mau bilang dulu kalo tulisan ini sama sekali bukan bahas resep. Bukan juga review menu minuman dari salah satu brand kopi. Dan seperti yang tertera di judul, ini bukan semata perkara selera.

Terus, sebenarnya ini apa?

Jadi semua bermula dari ke-BM-an aku mau beli Avocado, menu non-kopi dari salah satu gerai kopi. Dari awal aku nyobain menu ini, aku udah suka banget. Aku suka rasanya yang segar, dan manis pastinya. Beberapa hari belakangan aku pengen minum ini lagi, tapi kutunda-tunda terus.

Sampai kemarin pas pulang kerja, rasanya capek banget dan aku mau treat diriku dengan minuman enak. Ya si Avocado itu. Btw ini aku sengaja nggak tulis nama menu lengkapnya ya, biar nggak dikira lagi review produk wkwkwk.

Nah, balik lagi ke si Avocado. Aku pengen banget minum itu dan udah kebayang gimana rasa segarnya. Aku anaknya sering emotional eater, kalo stres bawaannya pengen makan atau minum apa gitu. Dan aku pun berekspektasi dengan minum Avocado itu, pusing-pusing kepala agak berkurang lah dikit. Biasanya ketika aku makan atau minum yang ku ngidam-in (?), emang ada kepuasan tersendiri gitu, agak teredam stresnya; meski sebentar doang efeknya hahaha.

Berbekal keinginan dan ekspektasi itu, aku pun bergerak buat beli. Aku sengaja ambil jalan yang beda dari jalan pulang biasa, biar lewat kedai kopi itu. Jalan yang lebih jauh, macet juga, hujan pula. Tapi ya emang kedai kopinya ada di jalan itu, jadi aku nggak masalah.

Nah, masalah malah muncul pas aku udah sampai di kedai kopi itu.

Ketika cek daftar menu, aku udah lihat si Avocado dan berniat mau pesan itu. Tapi terus mataku bergerak ke bawah-bawahnya, cek menu yang lain. Mataku berhenti di menu Choco Blend (anggap aja namanya itu ya), yang ada tanda love di sampingnya. Yang nunjukkin kalo itu adalah menu best seller, yang pastinya banyak yang suka.

Aku bahkan memastikan lagi dengan nanya ke mbak-mbaknya, itu tanda love maksudnya apa. Dan seperti yang sudah diduga, mbaknya jawab kalo itu best seller. Nggak sampai di situ, mbaknya juga bilang kalo hari itu ada promo spesial pembelian Choco Blend. Aku cuma perlu nambah dikit, udah bisa dapat tambahan 1 kopi lagi dan 2 roti.

Tawaran yang menggiurkan, bukan? Otak aku pun berputar lebih cepat dari sebelumnya. Pandanganku teralih ke Choco Blend awalnya karena tanda love itu, tanda best seller itu. Terus aku juga mikir, kalo Choco kan pasti lebih manis, lebih enak. Aku kan emang suka yang manis-manis, dan manis cocok buat obat stres. Eh, kebetulan juga ada special deal yang hanya untuk hari itu; kayak semua hal mendorongku buat memilih si Choco ini.

Meski begitu, karena aku awalnya (dan sebenarnya masih) ingin si Avocado; aku sempat maju mundur. Aku nanya selain si Choco ini, apa lagi yang ada promo dan kali Avocado juga promo. Tapi ternyata si Avocado nggak promo. Dan karena aku nggak bisa memakan waktu lebih lama lagi, apalagi ini cuma perkara pesan menu minuman; aku pun pesan si Choco dan bundling-nya yang menggoda itu.

Meski begitu lagi, bayangan si Avocado kayak masih menggantung di ujung benakku. Ketika mau bayar pun, pas lagi buka HP mau scan QR, aku kepikiran buat ganti pesanan jadi Avocado aja. Tapi terus kuhalau, ah ya udahlah ini aja, udah pesan juga tinggal bayar.

Jadi, yang kubawa pulang adalah si Choco Blend. Dan gimana akhirnya?

Sama sekali tidak memuaskan. Dari tegukan pertama, aku udah tahu kalo bukan ini yang aku inginkan. Choco Blend ini emang enak dan manis banget, tapi bukan rasa itu yang aku kejar. Meski dengan segala bundling yang menguntungkan dari segi harga. Rotinya juga enak, kopi satunya juga enak. Tapi bukan itu semua yang aku inginkan

Aku nggak mendapat kepuasan seperti ekspektasiku sebelumnya, ya belinya juga menu berbeda kan. Nggak ada rasa lega atau adem yang menyiram hati (?) seperti yang kubayangkan, yang kutuju, yang kukejar.

Harusnya aku tetap beli si Avocado aja, seperti tujuanku semula.

Dan seperti yang kubilang, ini bukan semata perkara selera. Ini bukan pembahasan yang akan membandingkan lebih enak mana, Avocado vs Choco Blend. Karena kalo cuma dari segi rasa, si Choco ini juga masuk di selera aku.

Kalo cuma bahas enak atau enggak, Choco Blend pun enak buat aku. Kalo aku cuma cari minuman manis yang bisa meredakan stres, si Choco udah bisa jadi jawaban yang pas. Begitu juga dengan special deal yang sama sekali nggak merugikanku.

Tapi ya, lagi-lagi, bukan itu yang sedang aku tuju. Aku menuju, mengejar sensasi segar yang bisa menyiram kegelisahan hati (?) hahaha. Oke mungkin nggak sampai segitunya, tapi ada rasa tertentu yang aku ekspektasikan dari minuman itu. Dan ketika aku nggak mendapatkannya dari si Choco, itu bukan salah menunya.

Aku yang salah mengejar. Aku dari awal udah tahu apa yang aku inginkan, yang aku tuju. Tapi yang aku kejar malah hal lain.

Aku menginginkan Avocado, tapi malah mengejar Choco Blend; yang lebih banyak peminat, lebih manis, murah dapat banyak. Terus berbelok di tengah jalan, eh nggak tengah-tengah banget malah ya, persimpangan mungkin. Aku yang tergiur sama hal lain yang terlihat lebih menarik (karena banyak yang tertarik juga), dan menguntungkan.

Dan, ini bukan sekadar perkara memilih minuman.

Di tengah-tengah hancurnya ekspektasiku, aku ingat apa yang jadi concern aku beberapa hari belakangan. Aku yang sedang mempertimbangkan buat mengejar hal yang menguntungkan, dan mengesampingkan yang kuinginkan. Mirip banget sama kasus Avocado vs Choco Blend ini pokoknya.

Jadi gini gampangnya. Ada hal yang aku inginkan dari dulu, yang sedang aku tuju; sebut aja Avocado. Tapi perjalananku mengejar si Avocado ini nggak mulus-mulus banget, membuatku mempertimbangkan apa sebaiknya kulepas aja. Apa sebaiknya aku mengejar yang lebih menggiurkan dan menguntungkan, yaitu si Choco Blend.

Choco Blend ini sesuatu yang, mirip sama menu tadi, banyak peminat dan menguntungkan dari segi kalkulasi cuan. Dan ya, aku hidup butuh cuan kan ya. Siapa yang enggak, coba? Jadi karena aku lelah, gumoh, kesel, stres; aku pun berpikir untuk melepas Avocado dan mengejar si Choco Blend aja. Pikiran itu makin kuat dan mulai aku realisasikan dikit-dikit, arahku mulai berbelok ke si Choco itu pelan-pelan.

Sampai terjadilah kasus Avocado vs Choco Blend ini, perkara minuman yang ngerembet sampai kemana-mana. Aku jadi mikir, kalo minuman aja bikin aku kecewa dan menyesal beli gini; apalagi pilihan penting dalam hidup?

Kalo cuma perkara Choco Blend (versi minuman beneran), paling aku cuma rugi waktu sebanyak ambil jalan muter itu. Atau paling duit yang keluar kalo aku benar-benar pengen minum Avocado, jadinya beli lagi. Tapi kalo soal pilihan jalan hidup, nggak akan sesimpel itu kan ruginya?

Apalagi sejujurnya, aku udah beberapa kali belok. Sebelum ini pun, ketika aku lelah dan putus asa dengan arah yang sedang kukejar itu pun; aku beberapa kali berbelok ke arah lain. Aku udah beberapa kali mangkir ke Choco-Choco lain sebelumnya.

Dan seperti yang sudah diduga, aku nggak puas, nggak sesuai ekspektasi. Meskipun banyak yang meminati, tapi ternyata nggak pas di hati. Ujungnya, aku rugi waktu yang jauh lebih banyak. Perjalananku jadi jauh lebih lama karena kebanyakan mangkir ke sana-sini. Tenaga yang keluar pun jadi jauh lebih besar, malah jadinya lebih capek.

Lalu akhirnya kembali berusaha mengejar Avocado versiku.

Karena gimana pun juga, aku udah tahu apa yang aku inginkan dan tuju dari awal. Dan entah kenapa, aku masih aja gigih mau dapatkan itu, atau keukeuh ya ini namanya? Entah apapun itu, aku tetap mau mendapatkannya.

Jadi mungkin, meski melelahkan dan menguras tenaga luar dalam; aku perlu reset lagi ke mana arah yang kutuju. Apa yang sebenarnya kukejar, apa yang benar-benar aku inginkan. Apa yang memang penting bagiku; dan apa yang aku ikuti hanya karena banyak peminat, karena yang lain pun bergerak ke sana.

Hikmah yang dapat diambil adalah, mungkin aku sedang disadarkan lewat kasus pergulatan batin akibat Avocado vs Choco Blend kemarin. Diingatkan kembali kalau capek itu ya istirahat, bukan berhenti dan belok ke jalan lain.

Kalau yang aku butuhkan adalah mengambil jeda, bukan melepas semuanya.

pena runcing
ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Author: ahazrina

sajak, kata, kisah, potret, pena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *